Sekolah Lapang Iklim untuk Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (ToT SLI-POPT)
Yayasan Insan Hutan Indonesia (YIHUI) ikut serta dalam pelatihan Training of Trainer Sekolah Lapang Iklim untuk pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) yang diadakan oleh Aliansi Organis Indonesia (AOI). YIHUI melihat bahwa pelatihan sekolah lapang iklim ini sangat penting diterapkan di pertanian tradisional masyarakat adat. Penerapan metode organik untuk penanganan OPT dan pemupukan menjadi inovasi untuk peningkatan produksi pertanian, peningkatan pendapatan masyarakat adat, menjaga kondisi tanah dan mengurangi pembukaan hutan.
Dari hasil pengamatan di pertanian tradisional hama atau organisme pengganggu tanaman merugikan petani karena menurunkan hasil produksi. Padi ladang yang ditanam masyarakat adat di Desa Kubung sering mendapat serangan hama seperti ulat penggerek batang, wereng, walang sangit, tikus, burung pipit. Selain itu penyakit pada tanaman seperti jamur ostilago, kresek. Penanganan umumnya sangat minim. Menurut Bapak Eddy (60thn) hama biasanya dibiarkan saja, atau belum ada penanganan khusus, jika petani memiliki uang untuk membeli insektisida, maka mereka akan melakukan penyempotan hama menggunakan insektisida. Biasanya petani pasrah dengan hasil yang didapatkan. Selama ini hasil padi ladang hanya digunakan untuk keperluan keluarga, tidak dijual.
Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) di era sekarang mencakup hama, penyakit, dan gulma yang dapat merusak tanaman dan mengganggu produksi pertanian. OPT menjadi salah satu masalah utama yang perlu ditangani untuk menjaga produktivitas tanaman. Dinamika perkembangan OPT sangat dipengaruhi oleh lingkungan biotik dan abiotik, baik secara langsung maupun tidak langsung. Di alam, semua organisme dalam keadaan seimbang, dengan adanya perubahan iklim dan beberapa campur tangan manusia dalam pola budidaya mampu mempengaruhi dinamika perkembangan OPT. pengaruh perubahan iklim terhadap populasi OPT sulit diprediksi, karena adanya keseimbangan antara OPT dengan tanaman inang (host) serta musuh alaminya.
Dampak perubahan iklim bisa secara langsung maupun tidak langsung mampu mempengaruhi dinamika perkembangan OPT. Perubahan iklim global yang ditandai dengan meningkatnya suhu rata-rata, perubahan pola curah hujan, pergeseran musim, serta meningkatnya frekuensi kejadian iklim ekstrem seperti banjir, kekeringan, dan badai, telah memberikan dampak buruk terhadap pertanian di Indonesia. Pengaruh kejadian iklim ekstrim tersebut seringkali menstimulasi ledakan (breakout) beberapa hama dan penyakit utama tanaman. Dalam hal ini kelompok yang paling merasakan dampak perubahan iklim adalah petani yang sangat bergantung pada cuaca dan iklim. Dengan demikian petani harus memiliki strategi adaptasi yang tepat agar mampu bertahan dan bangkit dari ancaman dan perubahan.
Untuk menghadapi perubahan yang terjadi tersebut, dibutuhkan pendekatan pengelolaan pertanian yang adaptif, ramah lingkungan, dan organis. Sekolah Lapangan Iklim (SLI) pengendalian organisme pengganggu tanaman merupakan salah satu metode pembelajaran partisipatif menggunakan metode model pembelajaran orang dewasa (andragogi) yang terbukti efektif dalam meningkatkan kapasitas petani dan pendamping petani untuk memahami informasi iklim dan memanfaatkannya dalam pengambilan keputusan budidaya serta perawatannya. SLI-POPT ini mampu membantu petani mengantisipasi dampak perubahan iklim, memilih waktu tanam yang tepat, serta menyesuaikan strategi pengelolaan lahan dan tanaman.