ENGGANG BETINA, LAMBANG KEMAKMURAN DAN KESUBURAN
Pagi di Desa Kubung telah sepenuhnya tersinari mentari. Kabut yang semalam menyelimuti sungai dan lembah telah sirna tanpa bekas, membawa kejelasan pada pemandangan agung yang terhampar di hadapan desa: Bukit Konduruhan. Bukit itu berdiri gagah, punggungnya diselimuti hijau pekat dari pohon-pohon hutan yang rapat bukti nyata kondisi alam Lamandau yang masih perkasa.
Di bawah langit yang bersih, Desa Kubung mulai ramai dengan deru kehidupan. Ini adalah masa “menggurun,” periode penting dalam pertanian padi tadah hujan, di mana para petani harus membersihkan gulma dan rumput liar yang tumbuh cepat di sekitar bibit padi yang baru merangkak naik. Ini adalah kerja keras yang menentukan hasil panen.
Satu per satu, penduduk mulai bergerak menuju ladang mereka.
Sepeda motor adalah satu-satunya alat transportasi yang mampu menaklukkan jalan tanah kuning yang bergelombang, naik turun bukit kecil, dan licin karena embun. Di belakangnya, beberapa ibu dan bapak memilih berjalan kaki, membawa parang yang tersemat di pinggang dan lanjung di punggung. Meski jalanan berat, semangat “menggurun” terasa kuat.
Namun, pagi ini memang terasa istimewa,
Seekor Enggang Betina kembali menampakkan diri. Terbang melintasi langit dan hinggap di pohon jengkol depan kantor Desa Kubung persis di atas jalur para peladang, seolah sedang melakukan inspeksi. Sayapnya yang besar dan berbunyi gaduh kini bukan lagi mengejutkan, tetapi membawa rasa bangga bagi warga Kubung.
Kehadiran Enggang Betina di saat masa menggurun memberikan makna simbolis yang mendalam. Enggang adalah simbol pelindung dan kesetiaan. Kehadirannya saat penduduk sedang berjuang membersihkan ladang diinterpretasikan sebagai restu dan perlindungan dari leluhur. Mereka meyakini, jika Enggang masih terbang bebas di atas ladang mereka, itu berarti hutan di Bukit Konduruhan masih terjaga, air akan terus mengalir, dan kesuburan tanah akan tetap ada.
Para petani yang melintas sejenak melihat urung Enggang. Kemudian dengan senyum di wajah, para melanjutkan perjalanan, mengarungi jalan tanah kuning yang menantang. Di punggung mereka, bukan hanya beban sabit bekal dan peralatan, tetapi juga harapan dan keyakinan, yang dikuatkan oleh pesan pagi dari seekor Enggang Betina—pesan bahwa kerja keras mereka dalam mengolah lahan dan menjaga hutan adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Mereka pun siap untuk menundukkan rumput-rumput liar, menjaga pertumbuhan padi, demi kehidupan yang lestari di bawah tatapan gagah Bukit Konduruhan.
Kedatangan Enggang betina di pagi hari bukanlah peristiwa yang acak. Di mata Suku Dayak, Enggang adalah lambang kesetiaan dan pelindung. Tetapi Enggang betina memiliki makna lebih mendalam, sering dikaitkan dengan kemakmuran yang akan datang dan kesuburan alam.
Perilaku Enggang yang monogami dan proses bersarangnya yang unik, di mana sang betina mengisolasi diri di lubang pohon membuat Enggang betina sangat rentan. Oleh karena itu, kehadirannya yang bebas dan sehat adalah sertifikat kehormatan bagi warga Kubung. Itu adalah bukti bahwa mereka telah berhasil menjaga hutan mereka tetap perawan, dengan pohon-pohon raksasa yang menyediakan rumah bagi sang ratu hutan.
Enggang betina itu berdiam sejenak di dahan, paruhnya membersihkan bulu, seolah tahu ia sedang diperhatikan dan dihormati. Setelah beberapa menit mengamati hutan dan desa di bawahnya, dengan satu kepakan berat yang agung, ia terbang lagi, masuk lebih dalam ke kanopi hutan yang gelap, menghilang bersama hilangnya kabut pagi.
Burung Enggang atau Rangkong (famili Bucerotidae) adalah mahkota hutan Kalimantan yang megah, dan kehadirannya di suatu wilayah, seperti Desa Kubung, Kecamatan Delang, Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, menjadi cerminan nyata dari kekayaan ekosistem yang masih terjaga. Bagi masyarakat Suku Dayak, burung ini bukan hanya satwa liar biasa, melainkan figur sakral yang sarat makna filosofis dan spiritual.
Bagi Suku Dayak, burung Enggang, terutama jenis Enggang Cula (Buceros rhinoceros) dan Rangkong Gading (Rhinoplax vigil), memiliki posisi yang sangat terhormat. Ia dianggap sebagai Panglima Burung dan utusan dari alam atas atau dewa-dewa (alam kedewataan), yang menjadi lambang luhur dalam berbagai aspek kehidupan dan kebudayaan.
Paruhnya yang besar dan berbalung (casque) menyimbolkan kekuatan, sementara sayapnya yang lebar dan kokoh melambangkan pemimpin yang melindungi dan mengayomi rakyatnya. Dalam tarian adat, bulu-bulu Enggang sering menghiasi topi atau pakaian, menegaskan status dan keberanian pemakainya.
Enggang dikenal sebagai satwa monogami yang hanya memiliki satu pasangan seumur hidup. Perilaku ini menjadi inspirasi dan lambang kesetiaan cinta, kerukunan, serta tanggung jawab keluarga. Pasangan Enggang jantan akan menutup sarang betina saat bertelur dan menyuapinya melalui lubang kecil, menunjukkan dedikasi yang tinggi.
Ekornya yang panjang sering diartikan sebagai tanda kemakmuran dan panjangnya umur. Keseluruhan sosok Enggang melambangkan watak pemimpin yang bijaksana dan dicintai, serta harapan akan kehidupan yang damai dan sejahtera.
Oleh karena itu, di Desa Kubung, pelestarian Enggang tidak hanya didorong oleh kesadaran ekologis modern, tetapi juga berakar kuat pada penghormatan terhadap nilai-nilai budaya dan spiritual leluhur Dayak.
Keberadaan populasi Enggang yang stabil di hutan sekitar Desa Kubung adalah bukti konkret bahwa kondisi hutan di sana masih sehat dan terjaga. Enggang dikenal sebagai spesies yang sangat sensitif terhadap kerusakan habitat, menjadikannya “keystone species” atau spesies kunci dalam ekosistem, serta indikator biologis yang penting.
Makanan utama Enggang adalah buah-buahan, terutama buah ‘kembayau” dan jenis buah hutan lainnya. Enggang memiliki area jelajah yang luas. Biji buah yang dimakannya tidak tercerna dan dikeluarkan melalui kotoran saat mereka terbang jauh, berperan vital dalam regenerasi pohon dan menjaga keanekaragaman hayati hutan.
Enggang bersarang di lubang-lubang alami pada pohon-pohon tinggi berdiameter besar dan berusia tua. Jika Enggang masih ditemukan bersarang dan berbiak, itu berarti hutan di sekitar Kubung masih memiliki stok pohon-pohon besar yang menjadi syarat penting bagi kelangsungan hidup mereka. Hilangnya pohon-pohon besar ini, akibat penebangan liar atau konversi lahan, akan langsung mengancam populasi Enggang.
Sebagai satwa yang membutuhkan wilayah jelajah luas, kehadiran Enggang menunjukkan bahwa ekosistem hutan di sekitar Delang dan Lamandau masih terhubung dan tidak terfragmentasi secara parah.
Di tengah ancaman deforestasi dan perburuan ilegal yang kini menjadikan beberapa jenis Enggang, seperti Rangkong Gading, berstatus Kritis (Critically Endangered), peran komunitas adat dan warga Desa Kubung menjadi sangat penting. Adat istiadat Dayak yang mengkultuskan Enggang secara tidak langsung telah menjadi benteng pelestarian alam. Dengan menjaga Enggang, mereka tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga memastikan jantung hutan Kalimantan terus berdetak, menghasilkan udara segar, dan menjaga sumber daya alam bagi generasi mendatang.
Kehadiran Burung Enggang yang menawan di langit Desa Kubung, Kabupaten Lamandau, adalah pengingat berharga akan keindahan dan pentingnya harmoni antara manusia, budaya Dayak, dan alam rimba Kalimantan. Perlindungan wilayah Desa Kubung melalui Pengakuan dan Perlindungan Wilayah Adat menjadi hal penting dan mendesak untuk dilakukan. Saat ini upaya mendapakan Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Adat Dayak Tomun Laman Kubung masih terkendala sarat administratif yang panjang dan membutuhkan biaya besar. Perjalanan 2 tahun mendorong pengakuan MHA masih menjadi “pekerjaan rumah” yang harus dilanjutkan dengan sabar dan penuh perjuangan.