{"id":481,"date":"2025-08-22T08:46:48","date_gmt":"2025-08-22T08:46:48","guid":{"rendered":"https:\/\/insanhutan.org\/?p=481"},"modified":"2026-01-09T21:15:46","modified_gmt":"2026-01-09T14:15:46","slug":"sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/insanhutan.org\/en\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/","title":{"rendered":"Sejarah Masyarakat Adat Dayak Tomun Desa Kubung"},"content":{"rendered":"<p>Sejarah masyarakat adat Dayak Tomun Desa Kubung berasal dari keturunan kerajaan Sarang Peruya. Konon pada zaman dahulu kerajaan Sarang Peruya ada di Hulu Sungai Batang Kawa atau Beginci dengan Rajanya Satoman dan istrinya yang bernama Laminding.<\/p>\n\n\n\n<p id=\"isPasted\">Pada abad 1400 M datanglah Patih Nan Sabatang1, seorang putra raja kerajaan Pagaruyung. Konon saat itu Kalimantan masih berupa pulau baru, masih setengah air atau setengah lautan. Ia meninggalkan kerajaan Pagaruyung karena tidak mau masuk Islam yang disebarkan oleh kerajaan Samudera Pasai. Patih Nan Sabatang berkeliaran membawa senjata khas berupa badik menggunakan perahu dengan bendera layar khas yang disebut Serai Serampun.<\/p>\n\n\n\n<p>Patih Nan Sabatang memasuki daerah Kalimantan di hulu Sungai Lamandau yang sekarang disebut Beginci. Sungai Lamandau terbagi menjadi tiga, bagian hilir disebut sungai Lamandau, bagian tengah disebut sungai Batang Kawa, bagian hulu disebut Beginci. Ia menemukan tempat di perbukitan yang masih kosong, yaitu di Beginci. Kemudian tinggal dan tinggal di sana selama beberapa waktu. Pemukiman Patih nan Sabatang sering dikunjungi oleh penduduk asli (mungkin juga orang gaib dari Kalimantan). &nbsp;Alkisah banyak orang datang mengunjunginya, tiba-tiba datang pula seorang wanita dari pedalaman yang mengunjunginya. Patih Nan Sabatang tertarik dengan wanita ini dan kemudian terjadilah perkawinan antara Patih Nan Sabatang dengan seorang dari pedalaman Kalimantan yang bernama Dayang Ilung. Burai.<\/p>\n\n\n\n<p>Patih Nan Sabatang pamit dan pulang ke Sumatera bersama Cenaka Burai, sedangkan putri Gemiluh ditinggal di Kalimantan. Kemudian muncul dongeng tentang Cenaka Burai, ceritanya hampir sama dengan cerita Malin Kundang. Sebelum pulang, Patih Nan Sabatang menitipkan harta warisannya kepada Gemiluh. Warisan harus dipegang oleh putra sulung. Setelah Patih Nan Sabatang kembali ke Sumatra, diceritakan bahwa Gemiluh menikah dan dikaruniai dua orang anak, salah satunya bernama Pintu. Kemudian Pintu menikah dengan Lilu, memiliki 7 anak, 1 perempuan dan 6 laki-laki. Putrinya bernama Sobal dan anak kedua bernama Jajar Melahui.<\/p>\n\n\n\n<p>Warisan warisan Patih Nan Sabatang kini dipegang oleh Sobal dan diperebutkan oleh anak-anak Pintu, karena berdasarkan pesan dari Patih Nan Sabatang, harta dan pusaka harus disimpan bersama putra sulung. Anak kedua, Jajar Melahui, dekat dengan Sobal karena merasa sebagai saudara yang bertanggung jawab. Sementara itu, saudara-saudara yang lain mencari lokasi mereka sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Perebutan warisan terus berlanjut, beberapa kali Sobal dan Jajar Melahui diserang oleh kerabat lainnya. Karena tidak mau mengalah, akhirnya mereka meninggalkan pemukiman di Hulu Beginci yang bernama Sarang Peruya dan pindah ke Batu Liau, sebuah bukit antara Belantikan dan Lamandau. Setelah bergerak, mereka tetap diserang untuk merebut pusaka-pusaka peninggalan mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Selanjutnya mereka menetap di Kerupai Sejawai, sungai tersebut sekarang menjadi hulu Sungai Jelai. Setelah beberapa waktu di Kerupai Sejawai, serangan lain datang, kali ini adalah adik bungsu mereka. Sedangkan saudara mereka yang lain sudah mengundurkan diri dan tidak ada riwayat.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari Kerupai Sejawai, Sobal dan Jajar Melahui pindah ke pemukiman baru yaitu daerah Majang. Letak Majang berada di antara dua sungai besar, posisinya strategis untuk membangun pemukiman karena terdapat sungai di sebelah kanan dan kiri. Selama beberapa tahun mereka berada di sana, mereka masih diserang. Jajar Melahui merasa muak\/lelah dengan serangan-serangan itu, dan akhirnya mau tidak mau Jajar Melahui melawan tetapi tetap tidak tega membunuh atau kehilangan jiwa saudaranya dengan menumpahkan darah. Konon orang tuanya masih dekat dengan arwah, kemudian Jajar Melahui bertapa meminta petunjuk. Petunjuk dari hasil zuhud, jika engkau mencintaimu tetapi harus membunuh saudaramu tanpa pendarahan, syaratnya adalah membuat tombak dari timah. Timah itu dilapisi dengan jantung pisang hutan, yang disebut Tuju.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah itu, Jajar Melahui membuat tombak timah berlapis bunga pisang Tuju. Adik bungsunya datang menyerang, membawa serta pengawal. Jajar Melahui kemudian menyerang adik bungsunya dari kejauhan dengan menggunakan tombak timah. Adik bungsunya terkena tombak dan pingsan. Karena para penyerang kalah, mereka melarikan diri dan membawanya pulang, namun akhirnya adik bungsu Jajar Melahui tewas di jalan. Setelah itu tidak ada lagi yang menyerang Jajar Melahui dan Sobal.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut cerita, setelah Jajar Melahui menikah dengan Tayatan dari Majang, mereka pindah ke Hulu Sungai Delang, dan ia memberi nama Laman Taro (Betaro). Ia mendapat petunjuk melalui mimpi untuk mengganti nama Laman Taro menjadi Kudangan, dan akhirnya Laman Taro mengganti namanya menjadi Kudangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Jajar Melahui adalah orang yang memiliki pengaruh dan kesaktian pada masa itu. Ia pernah berbicara\/melayani di Kerajaan Banjar, pada masa Raja Suriansyah. &nbsp;Saat bertugas di Kerajaan Banjar, raja kehilangan batu permata berlian, kemudian Raja Suriansyah mengumpulkan para pekerja yang ada untuk mengetahui siapa yang mencuri batu permata berlian tersebut dan menyiapkan pacu (semacam benda tajam) di papan tulis. Setelah mereka dikumpulkan, tidak ada yang mengaku, lalu Raja ingat bahwa ia tidak menanyai satu pekerja, yaitu Jajar Melahui, yang kediamannya berada di bawah rumah. Jajar Melahui dipanggil oleh Raja, jika tidak ada yang mengaku diperintahkan untuk menampar taji, pada saat itu tidak ada pekerja yang berani, maka Jajar Melahui maju dan berani menampar taji, karena kesaktiannya ia bisa menampar taji, taji berubah menjadi air.<\/p>\n\n\n\n<p>Ceritanya batu permata intan itu jatuh ke dada Jajar Melahui sebagai petunjuk dari para leluhur dan menambah kesaktian Jajar Melahui. Karena keberanian dan kejujurannya, Sang Raja memberikan batu permata intan tersebut sebagai petunjuk dan pahala dari para leluhur untuk menambah kesaktian Jajar Melahui yang diberi nama Batu Intan Tampar Taji. Batu intan Tampar Taji sekarang berada di Kudangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Setelah bertugas di kerajaan Banjar, Jajar Melahui menjadi pemimpin Kudangan dan mengembangkan wilayah. Kemudian keturunan dari garis Melahui berkembang dan bertambah. Menurut cerita, Jajar Melahui memiliki kesaktian yang memungkinkannya melakukan perjalanan ke Banjar dengan menggunakan tikar pandan hanya dalam waktu satu hari, dan memperluas wilayah Laman Taro hingga wilayah yang saat ini dikenal dengan Kalimantan Barat.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Angguhan Pino diyakini berasal dari Kudangan dan yang pertama membuka hutan, bertani dan membuat dusun, beberapa dusun bernama Mencara, Labang, Petobang, terbagi menjadi Penongukan Darat dan Penogukan Tanjung, kemudian mereka bergabung menjadi Laman Natai Panjang dan kemudian berganti nama menjadi Kubung.<\/p>\n\n\n\n<p>Di desa Kubung ada yang namanya garis keturunan Angguhan\/keturunan, angguhan ini berbeda untuk laki-laki dan perempuan, dan berlaku untuk semua keturunan. Anggahan Jantan: Pino, Ngais, Apah, Cai, Dau, Kerangan, Tut, Sonkad, Suhang. Angguhan Wanita: Pirai, Kala, Donggul, Kokoro, Bolab, Kokitih, Jobui, Holang. Jika seorang anak laki-laki akan mengikuti rahmat ayahnya, jika seorang anak perempuan akan mengikuti rahmat ibunya.<\/p>\n\n\n\n<p>Angguhan Pino, Ngais, Pirai dan Donggul pada zaman dahulu sebelum tahun 1962 memiliki keistimewaan untuk dapat menjadi mantir dan memiliki keistimewaan pada saat acara-acara tertentu. Saat ini masih berlaku tetapi disesuaikan dengan kemampuan individu. Angguhan berlaku untuk semua keturunan dimanapun mereka berada, Angguhan yang sama juga terdapat di beberapa desa lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Selanjutnya menjadi penuturan tokoh-tokoh jaya, yang dilanjutkan oleh Mas Bihi Kintung.(pemimpin di Kudangan) di Kubung sudah ada Mantir Sepuluh, Abu Munsim diangkat oleh Kudangan menjadi Mantir Sepuluh pertama di Desa Kubung. Bukti peninggalan sejarah berupa ratusan tiang kayu ulin raksasa yang mereka sebut Tiang Pantar masih berdiri hingga masa Mas Kayo, Kepala Pengaruh Agung, tiang kayu ulin besar berdiameter 50 cm dengan tinggi mencapai 40 m, masih terdapat peninggalan lain berupa pusaka dan barang bersejarah lainnya hingga saat ini dan benda-benda tersebut masih tersimpan rapi di Desa Kudangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada saat itu, juga dikatakan bahwa ada banyak tokoh yang kuat dan berkuasa, yang terbesar dan paling kuat, orang itu akan menjadi raja atau pemimpin. Kemudian cerita berlanjut pada masa kejayaan seorang pemimpin yang tidak kalah hebat dengan tokoh-tokoh sebelumnya, yaitu pada zaman Mas Kayo, Kepala Pengaruh yang Agung. Ia disebut Raja Sungai Atas. Pada zaman ini Kudangan tercatat sebagai halaman yang masih sangat dihormati dan dikagumi oleh desa-desa sekitarnya. karena pemimpinnya Mas Petinggi Agung Pengaruh juga seorang mandraguna yang sakti, tegas, berani, dermawan dan baik hati. Namanya bahkan dikenal di hampir seluruh Kalimantan. Pada saat itulah pencatatan dan pembentukan struktur organisasi kelembagaan desa atau pekarangan dimulai,dengan catatan administrasi tertulis lengkap mengenai mantir, pekarangan, dan dusun Tuho.<\/p>\n\n\n\n<p>Wilayah Laman Kudangan sangat luas, pada saat itu banyak penduduk yang tinggal tidak hanya di Laman tetapi di dusun-dusun, di sana juga dibentuk kelompok yang dipimpin oleh seorang mantir yang disebut Mantir Sepuluh, dusun-dusun tersebut adalah, Bolaban Kampung Panjang, Muhur Ponggo, Ponogukan Darat, dan Ponogukan Tanjung. Dusun-dusun ini terdiri dari beberapa sub seksi. Misalnya untuk Penoguk Tanah meliputi Cupil, Sohohuran, Perangin Ungkung Konduruhan. Sedangkan Ponogukan Tanjung meliputi Moncara, Labang Sosapat, Kolopisan, Bolompi, Potobang, Sungai Poruyo Durin. Letak dusun tersebut terletak di sepanjang sungai Delang sampai ke hulu anak sungai Jelai.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejarah masyarakat adat Dayak Tomun Desa Kubung berasal dari keturunan kerajaan Sarang Peruya. Konon pada zaman dahulu kerajaan Sarang Peruya ada di Hulu Sungai Batang Kawa atau Beginci dengan Rajanya Satoman dan istrinya yang bernama Laminding. Pada abad 1400 M datanglah Patih Nan Sabatang1, seorang putra raja kerajaan Pagaruyung. Konon saat itu Kalimantan masih berupa&#8230;<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":482,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"give_campaign_id":0,"_kad_post_transparent":"","_kad_post_title":"","_kad_post_layout":"","_kad_post_sidebar_id":"","_kad_post_content_style":"","_kad_post_vertical_padding":"","_kad_post_feature":"","_kad_post_feature_position":"","_kad_post_header":false,"_kad_post_footer":false,"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-481","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"\n<title>Sejarah Masyarakat Adat Dayak Tomun Desa Kubung - Insan Hutan<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/insanhutan.org\/en\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Sejarah Masyarakat Adat Dayak Tomun Desa Kubung - Insan Hutan\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Sejarah masyarakat adat Dayak Tomun Desa Kubung berasal dari keturunan kerajaan Sarang Peruya. Konon pada zaman dahulu kerajaan Sarang Peruya ada di Hulu Sungai Batang Kawa atau Beginci dengan Rajanya Satoman dan istrinya yang bernama Laminding. Pada abad 1400 M datanglah Patih Nan Sabatang1, seorang putra raja kerajaan Pagaruyung. Konon saat itu Kalimantan masih berupa...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/insanhutan.org\/en\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Insan Hutan\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/facebook.com\/insanhutan\/\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-08-22T08:46:48+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-01-09T14:15:46+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/insanhutan.org\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG_20180708_10092.webp\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1920\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1080\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/webp\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Yihui\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Yihui\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"8 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/insanhutan.org\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/insanhutan.org\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/\"},\"author\":{\"name\":\"Yihui\",\"@id\":\"https:\/\/insanhutan.org\/#\/schema\/person\/d27e07cc946bb9c0ec45ee494561687c\"},\"headline\":\"Sejarah Masyarakat Adat Dayak Tomun Desa Kubung\",\"datePublished\":\"2025-08-22T08:46:48+00:00\",\"dateModified\":\"2026-01-09T14:15:46+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/insanhutan.org\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/\"},\"wordCount\":1348,\"commentCount\":0,\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/insanhutan.org\/#organization\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/insanhutan.org\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/insanhutan.org\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG_20180708_10092.webp\",\"articleSection\":[\"ARTIKEL\"],\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/insanhutan.org\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/insanhutan.org\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/\",\"url\":\"https:\/\/insanhutan.org\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/\",\"name\":\"Sejarah Masyarakat Adat Dayak Tomun Desa Kubung - Insan Hutan\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/insanhutan.org\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/insanhutan.org\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/insanhutan.org\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/insanhutan.org\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG_20180708_10092.webp\",\"datePublished\":\"2025-08-22T08:46:48+00:00\",\"dateModified\":\"2026-01-09T14:15:46+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/insanhutan.org\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/insanhutan.org\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/insanhutan.org\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/insanhutan.org\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG_20180708_10092.webp\",\"contentUrl\":\"https:\/\/insanhutan.org\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG_20180708_10092.webp\",\"width\":1920,\"height\":1080,\"caption\":\"organisasi nirlaba aoakanbajsad\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/insanhutan.org\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/insanhutan.org\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Sejarah Masyarakat Adat Dayak Tomun Desa Kubung\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/insanhutan.org\/#website\",\"url\":\"https:\/\/insanhutan.org\/\",\"name\":\"insanhutan.org\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/insanhutan.org\/#organization\"},\"alternateName\":\"Insan Hutan\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/insanhutan.org\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/insanhutan.org\/#organization\",\"name\":\"Yayasan Insan Hutan Indonesia\",\"alternateName\":\"Yihui\",\"url\":\"https:\/\/insanhutan.org\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/insanhutan.org\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/insanhutan.org\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Yihui-1.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/insanhutan.org\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Yihui-1.png\",\"width\":1017,\"height\":1024,\"caption\":\"Yayasan Insan Hutan Indonesia\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/insanhutan.org\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/facebook.com\/insanhutan\/\",\"https:\/\/www.instagram.com\/yihu_indonesia\/\"]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/insanhutan.org\/#\/schema\/person\/d27e07cc946bb9c0ec45ee494561687c\",\"name\":\"Yihui\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\/\/insanhutan.org\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b73980c53fdb0dadb7abe18db5a4355c2cff61d1101115eb3e5aac64a6814f1d?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b73980c53fdb0dadb7abe18db5a4355c2cff61d1101115eb3e5aac64a6814f1d?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Yihui\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/insanhutan.org\"],\"url\":\"https:\/\/insanhutan.org\/en\/author\/yihui\/\"}]}<\/script>\n","yoast_head_json":{"title":"Sejarah Masyarakat Adat Dayak Tomun Desa Kubung - Insan Hutan","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/insanhutan.org\/en\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Sejarah Masyarakat Adat Dayak Tomun Desa Kubung - Insan Hutan","og_description":"Sejarah masyarakat adat Dayak Tomun Desa Kubung berasal dari keturunan kerajaan Sarang Peruya. Konon pada zaman dahulu kerajaan Sarang Peruya ada di Hulu Sungai Batang Kawa atau Beginci dengan Rajanya Satoman dan istrinya yang bernama Laminding. Pada abad 1400 M datanglah Patih Nan Sabatang1, seorang putra raja kerajaan Pagaruyung. Konon saat itu Kalimantan masih berupa...","og_url":"https:\/\/insanhutan.org\/en\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/","og_site_name":"Insan Hutan","article_publisher":"https:\/\/facebook.com\/insanhutan\/","article_published_time":"2025-08-22T08:46:48+00:00","article_modified_time":"2026-01-09T14:15:46+00:00","og_image":[{"width":1920,"height":1080,"url":"https:\/\/insanhutan.org\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG_20180708_10092.webp","type":"image\/webp"}],"author":"Yihui","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Yihui","Est. reading time":"8 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/insanhutan.org\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/insanhutan.org\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/"},"author":{"name":"Yihui","@id":"https:\/\/insanhutan.org\/#\/schema\/person\/d27e07cc946bb9c0ec45ee494561687c"},"headline":"Sejarah Masyarakat Adat Dayak Tomun Desa Kubung","datePublished":"2025-08-22T08:46:48+00:00","dateModified":"2026-01-09T14:15:46+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/insanhutan.org\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/"},"wordCount":1348,"commentCount":0,"publisher":{"@id":"https:\/\/insanhutan.org\/#organization"},"image":{"@id":"https:\/\/insanhutan.org\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/insanhutan.org\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG_20180708_10092.webp","articleSection":["ARTIKEL"],"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/insanhutan.org\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/insanhutan.org\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/","url":"https:\/\/insanhutan.org\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/","name":"Sejarah Masyarakat Adat Dayak Tomun Desa Kubung - Insan Hutan","isPartOf":{"@id":"https:\/\/insanhutan.org\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/insanhutan.org\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/insanhutan.org\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/insanhutan.org\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG_20180708_10092.webp","datePublished":"2025-08-22T08:46:48+00:00","dateModified":"2026-01-09T14:15:46+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/insanhutan.org\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/insanhutan.org\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/insanhutan.org\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/#primaryimage","url":"https:\/\/insanhutan.org\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG_20180708_10092.webp","contentUrl":"https:\/\/insanhutan.org\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG_20180708_10092.webp","width":1920,"height":1080,"caption":"organisasi nirlaba aoakanbajsad"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/insanhutan.org\/sejarah-masyarakat-adat-dayak-tomun-desa-kubung\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/insanhutan.org\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Sejarah Masyarakat Adat Dayak Tomun Desa Kubung"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/insanhutan.org\/#website","url":"https:\/\/insanhutan.org\/","name":"insanhutan.org","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/insanhutan.org\/#organization"},"alternateName":"Insan Hutan","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/insanhutan.org\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/insanhutan.org\/#organization","name":"Yayasan Insan Hutan Indonesia","alternateName":"Yihui","url":"https:\/\/insanhutan.org\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/insanhutan.org\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/insanhutan.org\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Yihui-1.png","contentUrl":"https:\/\/insanhutan.org\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Yihui-1.png","width":1017,"height":1024,"caption":"Yayasan Insan Hutan Indonesia"},"image":{"@id":"https:\/\/insanhutan.org\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/facebook.com\/insanhutan\/","https:\/\/www.instagram.com\/yihu_indonesia\/"]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/insanhutan.org\/#\/schema\/person\/d27e07cc946bb9c0ec45ee494561687c","name":"Yihui","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/insanhutan.org\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b73980c53fdb0dadb7abe18db5a4355c2cff61d1101115eb3e5aac64a6814f1d?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/b73980c53fdb0dadb7abe18db5a4355c2cff61d1101115eb3e5aac64a6814f1d?s=96&d=mm&r=g","caption":"Yihui"},"sameAs":["https:\/\/insanhutan.org"],"url":"https:\/\/insanhutan.org\/en\/author\/yihui\/"}]}},"rttpg_featured_image_url":{"full":["https:\/\/insanhutan.org\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG_20180708_10092.webp",1920,1080,false],"landscape":["https:\/\/insanhutan.org\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG_20180708_10092.webp",1920,1080,false],"portraits":["https:\/\/insanhutan.org\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG_20180708_10092.webp",1920,1080,false],"thumbnail":["https:\/\/insanhutan.org\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG_20180708_10092-150x150.webp",150,150,true],"medium":["https:\/\/insanhutan.org\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG_20180708_10092-300x169.webp",300,169,true],"large":["https:\/\/insanhutan.org\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG_20180708_10092-1024x576.webp",1024,576,true],"1536x1536":["https:\/\/insanhutan.org\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG_20180708_10092-1536x864.webp",1536,864,true],"2048x2048":["https:\/\/insanhutan.org\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG_20180708_10092.webp",1920,1080,false],"trp-custom-language-flag":["https:\/\/insanhutan.org\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG_20180708_10092.webp",18,10,false]},"rttpg_author":{"display_name":"Yihui","author_link":"https:\/\/insanhutan.org\/en\/author\/yihui\/"},"rttpg_comment":0,"rttpg_category":"<a href=\"https:\/\/insanhutan.org\/en\/category\/artikel\/\" rel=\"category tag\">ARTIKEL<\/a>","rttpg_excerpt":"Sejarah masyarakat adat Dayak Tomun Desa Kubung berasal dari keturunan kerajaan Sarang Peruya. Konon pada zaman dahulu kerajaan Sarang Peruya ada di Hulu Sungai Batang Kawa atau Beginci dengan Rajanya Satoman dan istrinya yang bernama Laminding. Pada abad 1400 M datanglah Patih Nan Sabatang1, seorang putra raja kerajaan Pagaruyung. Konon saat itu Kalimantan masih berupa...","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/insanhutan.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/481","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/insanhutan.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/insanhutan.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/insanhutan.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/insanhutan.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=481"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/insanhutan.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/481\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1879,"href":"https:\/\/insanhutan.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/481\/revisions\/1879"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/insanhutan.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/482"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/insanhutan.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=481"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/insanhutan.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=481"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/insanhutan.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=481"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}<!-- This website is optimized by Airlift. Learn more: https://airlift.net. Template:. Learn more: https://airlift.net. Template: 69858f6b5612b7eae5ed912f. Config Timestamp: 2026-02-06 06:51:23 UTC, Cached Timestamp: 2026-04-03 20:13:32 UTC -->